Jam 9 malam lebih sekian sekian. Anak-anak sudah tidur. Seperti biasa, sambil menikmati teh melati panas (bukan hangat), saya ngobrol-ngobrol dengan B yang lagi ngopi, meskipun belum mandi sejak pulang dari kantor.
B seperti biasa senyam senyum nggak jelas. Rupanya dia habis baca tulisan saya yang ini.
“memangnya arie harapannya apa?”. Begitu dia nanya ke saya.
“kan udah baca sendiri. Banyaklaaah.”, jawab saya.
“iya, banyak itu apa aja?”.
Saya jadi mikir-mikir. Apa aja ya harapan saya akhir-akhir ini.
Sudahlah, saya tidak mau berbicara harapan2 saya yang dulu2, yang kelihatannya sudah banyak yg hanya berupa khayalan saja, dan juga sudah mulai jelas kalau tidak akan tercapai.
Jadi saya mulai memilah-milih harapan-harapan saya yang baru dan lebih realistis.
Anak-anak pasti prioritas utama. Tapi kok saya ingin punya harapan-harapan untuk diri saya sendiri, ya?
Mungkin rasanya menyenangkan bisa punya harapan untuk diri saya sendiri, dan nggak melulu untuk orang lain, seperti yang saya lakukan beberapa tahun terakhir.
Disaat yang sama, saya juga jadi jengkel, karena saya ternyata takut untuk berharap.
Seakan otak saya memblokade setiap harapan yg ingin saya bayangkan.
Karena akhirnya saya tidak juga (belum maksudnya) menemukan harapan sederhana yang bisa saya bayangkan, akhirnya saya menjawab,
“ya harapan-harapan saya mungkin sama seperti orang lain. Hidup lancar-lancar aja, gk ada masalah, have a great sex life,..ya kira2 seperti itulah..”
“ooh..kirain arie pengen nikah lagi..”, jawab B enteng.
“WHAATTT…!!!”

No comments yet
Comments feed for this article