Lelaki-lelaki datang dan pergi.
Wanita-wanita menangis dan kehilangan.
Cinta, selaput dara, harga diri..semuanya.
Kata mereka, yang tercabut biarlah hilang dan mati.
Kataku..aku tak berkata apa-apa.

Jam 9 malam lebih sekian sekian. Anak-anak sudah tidur. Seperti biasa, sambil menikmati teh melati panas (bukan hangat), saya ngobrol-ngobrol dengan B yang lagi ngopi, meskipun belum mandi sejak pulang dari kantor.

B seperti biasa senyam senyum nggak jelas. Rupanya dia habis baca tulisan saya yang ini.
“memangnya arie harapannya apa?”. Begitu dia nanya ke saya.
“kan udah baca sendiri. Banyaklaaah.”, jawab saya.
“iya, banyak itu apa aja?”.

Saya jadi mikir-mikir. Apa aja ya harapan saya akhir-akhir ini.
Sudahlah, saya tidak mau berbicara harapan2 saya yang dulu2, yang kelihatannya sudah banyak yg hanya berupa khayalan saja, dan juga sudah mulai jelas kalau tidak akan tercapai.
Jadi saya mulai memilah-milih harapan-harapan saya yang baru dan lebih realistis.
Anak-anak pasti prioritas utama. Tapi kok saya ingin punya harapan-harapan untuk diri saya sendiri, ya?

Mungkin rasanya menyenangkan bisa punya harapan untuk diri saya sendiri, dan nggak melulu untuk orang lain, seperti yang saya lakukan beberapa tahun terakhir.
Disaat yang sama, saya juga jadi jengkel, karena saya ternyata takut untuk berharap.
Seakan otak saya memblokade setiap harapan yg ingin saya bayangkan.
Karena akhirnya saya tidak juga (belum maksudnya) menemukan harapan sederhana yang bisa saya bayangkan, akhirnya saya menjawab,
“ya harapan-harapan saya mungkin sama seperti orang lain. Hidup lancar-lancar aja, gk ada masalah, have a great sex life,..ya kira2 seperti itulah..”

“ooh..kirain arie pengen nikah lagi..”, jawab B enteng.

“WHAATTT…!!!”

Setiap malam, kalau saya bilang, “bentar ya, saya mau buat teh dulu, B selalu jawab, “iya, saya juga mau buat kopi dulu.” atau “buatin kopi sekalian ya..”, sambil senyam senyum gak jelas gitu.
Padahal dia tau kalo saya nggak begitu suka kopi dan gk pernah punya kopi.
Sebetulnya bukannya saya nggak ngopi sama sekali, tapi setiap kali minum kopi saya selalu batuk-batuk.
Apa karena saya asma, ya?
Kurang lebih dua tahun yang lalu, saya masuk rumahsakit karena asma, dan dokternya bilang kalau saya nggak boleh minum kopi dan makan coklat.
Its ok. Saya juga nggak begitu suka dua-duanya kok.
Meskipun agak heran juga, sejak kapan saya alergi kopi ya?
Seingat saya, waktu masih kecil, hampir tiap minggu saya diajak ayah saya makan Coto Makassar di Depot Selamat, Balipapan.
Saya suka kopi tbruknya. Ayah saya selalu mesen kopi tersebut pakai es dan biasanya, saya dan kakak saya rebutan ngabisin. Kopinya enak dan wangi. Katanya sih kopi toraja.
Waktu udah kuliah, saya juga suka ngopi di warkop deket rumah saya, yang kalau mau kesana mesti ngelewatin kuburan yang katanya ‘angker’.
Warkop di jalan siwalankerto itu terletak di pinggir rel kereta api.
Jadi kalau ada kereta lewat, tiap orang harus waspada karena kena hempasan angin yg kencang dari kereta yg lewat.
Menu utama (halah!) warkop tersebut adalah kopi setan. Disebut begitu karena panasnya ‘kayak setan’ dan juga pedesnya juga ‘kayak setan’. Sebetulnya kopi setan itu cuma kopi jahe biasa, yaitu kopi diseduh dgn air mendidih dan ditambahi jahe geprek segede-gede jari orang dewasa, kira2 6-7 buah, lah.
Tp nggak tau kenapa, orang2 lantas menyebutnya kopi setan.
Kopinya nggak terlalu enak, tp bisa nongkrong gratis berjam-jam, kalau perlu sampai subuh.
Dan rasanya saya baik2 aja, tuh walaupun minum kopi dari kecil
Sejak menikah, saya udah jarang ngopi, apalagi ngopi2, kecuali janjian ama temen, di cafe biasanya. Meskipun saya juga nggak suka2 amat acara ngopi2an itu, dan biasanya sy memilih minum teh saja.

Belakangan ini, kalau suami pulang dari Aceh, biasanya pagi2 dia suka nyeduh kopi aceh segelas besaaar yang kemudian ditambah susu dan diminum bareng anak2. Maksudnya dia juga ngebuatin saya sih, krn dia tau saya suka kopi tradisional gitu, tapi kalau buat sendiri rasanya kayak air cucian :-(
dan memang, akhirnya saya jd batuk2 sampai seminggu
Sekarang, kalau anak2 udah tidur, sambil ngobrol sama B sampe ketiduran, biasanya saya bikin teh melati (kental, panas dan agak manis), muter CD Jazz, atau ngeblues2 kyk Gary Moore, hard rock2an sama Whitesnake, metal2an ama Anthrax ato Judas Priest, rock n roll an ama Kiss…hehehe..
Apa aja mah, yg penting old skul! (naon nya, old skul, teh?). Gak nyambung kan?
Yah intinya, saya emang gk bisa minum kopi lagi kayaknya.
Dan minum teh melati, smbl berbagi apa yang bisa dibagi sama B yang juga menikmati kopinya, jadi satu kemewahan buat saya saat2 ini

* gara2 inget B yang tiap malam biasanya selalu ribut ama kopinya.
Cepet pulang ya, take care :-)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Pages